Villa Hutan Jati
Pohon Jati Untuk Reklamasi Tambang (Majalah Explo)
  • 01 Juli 2010 - Maraknya bisnis pertambangan, terutama tambang batu bara menyisakan masalah sosial reklamasi.  Tetapi juga meumbuhkan peluang bisnis baru.

    Saat ini dunia dilanda dampak global warming  di samping krisis energi dan pangan.  Krisis energi bisa diatasi dengan berbagai teknologi tetapi yang dominan adalah mengolah energi terbarukan dari hasil pertanian.  Pertanian yang ramah lingkungan adalah salah satunya jalan keluar untuk mengatasi dampak global warming,  krisis pangan dan krisis energi.

    “Ramah lingkungan juga harus ramah sosial,” ungkap Boedi Krisnawan Suhargo Direktur PT.Citra Graha Reksa Abadi kepada Explo di Jakarta baru baru ini.  Terutama di daerah bekas pertambangan yang telah mengalami degradasi lahan.  Tentunya akan sulit menghijaukan kembali setelah di reklamasi  kalau penghijauan yang dijalankan tidak melibatkan masyarakat sekitar.  Yaitu untuk memfungsikan lahan tersebut sebagai lahan pertanian pangan juga.

    Berbagai program CSR dan CER telah banyak dilakukan oleh berbagai perusahaan.  Tentunya akan sangat bermanfaat apabila program-program tersebut dipersiapkan untuk sekaligus mengatasi dampak global warming dan krisis pangan serta energi yang sedang melanda dunia saat ini.  Program reboisasi atau penghijauan tidak efektif bila tidak memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.  Akibatnya reboisasi tidak dapat dijalankan dengan skala optimal.

    Saat ini, lahan kritis dan kemiskinan merupakan permasalahan sangat serius dalam persoalan pembangunan di Indonesia.  Sedangkan untuk mengatasi masalah kemiskinan dibutuhkan proses yang berkelanjutan.  Karena itu, dunia usaha memiliki peran yang sangat penting melalui investasi yaang berbasis lingkungan maupun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan tanggung jawab sosial lingkungan.
    Menurut data kepemilikan lahan mayoritas petani sangat minim yaitu hanya sekitar  0,3 ha/kk.  Di sisi lain jumlah lahan kritis dan terbengkelai  lebih dari 90 juta ha, sedangkan lahan yang dimanfaatkan untuk lahan pertanian baru 12.5 juta ha.  Sehingga menjadi penting untuk mengarahkan pembangunan pertanian dengan memanfaatkan lahan kritis dan terutama lahan bekas pertambangan.

    Maka Boedi menawarkan suatu konsep dan metode tepat guna dengan tujuan untuk melakukan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan meningkatnya jumlah lahan kritis di Indonesia.  Caranya dengan memanfaatkan lahan kritis melalui konservasi tanah dan air untuk pemberdayaan petani kecil.  Motto yang dipegang Boedi adalah :  ”Bersama Sembuhkan Bumi”.

    Villa Hutan Jati (VHJ), yang dibangun oleh Boedi dari koceknya sendiri, diinisiasi sebagai proyek percontohan dan laboratorium alam bersama serta pelatihan untuk mengatasi dampak global warming.  Juga mengatasi minimnya lahan pertanian dan tersediannya air serta mengatasi kemiskinan petani.

    Villa Hutan Jati juga dimaksudkan menjadi tempat perlatihan bersama bagi perusahaan-perusahaan dan pribadi-pribadi untuk mempersiapkan masyarakat agar mampu melakukan konservasi tanah, air dan pohon sehingga ikut berperan aktif mengatasi dampak global warming, krisis pangan dan krisis energi sekaligus kemiskinan.
    Pola pendanaan dan peluang usaha yang dikembangkan Villa Hutan Jati adalah Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship).  Oleh karenanya program pembangunan sosial yang dijalankan tidak mengandalkan sumbangan atau bantuan.  Akan tetapi mengembangkan aspek ekonomi/bisnis secara Creative tanpa mengorbankan tujuan sosial.

    Dengan investasi sebesar Rp 750 juta untuk satu hektar lahan kritis bersertifikat HGB yang telah dilakukan konservasi maka perusahaan tambang bisa berinvestasi.  Lahan yang dibeli itu sudah ditanami 1.000 pohon jati serta ditambah pula dengan membayar biaya perawatan sebesar Rp 1,5 juta/bln/ha.  Perusahaan tambang yang berpartisipasi dengan konkrit telah menjalankan CER sekaligus CSR yang berkelanjutan sekaligus.

    Mengapa?  Ya, karena dengan berinvestasi di VHJ, maka perusahaan itu telah menyediakan tempat dan membiayai pelatihan bagi masyarakat agar mampu melakukan konservasi tanah-tanah kritis untuk dijadikan lahan produktif.
    Pemilihan pohon jati, karena pohon ini mampu tumbuh di atas lahan tandus serta sudah dikenal kualitas kayunya yang sangat baik, di samping harganya yang cukup tinggi.  Dengan sistim cloning/culture jaringan terbukti dalam waktu sepuluh tahun telah mencapai tinggi 20 m dengan diameter 30 cm yang akan menghasilkan minimum 1 m3 per-batang kayu kelas satu.

    Dengan demikian dana perusahaan yang diinvestasikan berfungsi multiguna : sebagai bentuk partisipasi aktif penghijauan, membangun tempat pelatihan untuk program penghijauan tanah tandus seperti bekas galian tambang dan sekaligus sebagai investasi sosial yang menguntungkan mengingat harga jati bernilai jual tinggi – saat ini berkisar Rp 15 juta,-/m3. (Nasyaruddin Achmad)

  • Global warming, krisis pangan, krisis energi dan kemiskinan mayoritas petani adalah masalah serius yang kita hadapi saat ini.  Kondisi diatas mendorong kami berperan aktif meminimalisir masalah-masalah tersebut.  Villa Hutan Jati diinisiasi untuk menjadi pilot project  mengatasi krisis pangan, krisis energi, dampak global warming dan kemiskinan mayoritas petani. Villa Hutan Jati dikelola dengan prinsip  Sosial Enterpreneurship dan sebagai fasilitor perusahaan-perusahaan dalam menjalankan  program CSR serta CER-nya.  [Lebih Lanjut >>]